Sabtu, 08 Desember 2018

Belajar Menulis Bersama Penulis


Part 1 (Sebuah Pengantar)

Suatu pagi di hari Ahad yang lumayan cerah.

Aku telah menghimpun semangatku dari beberapa hari kebelakang, menyongsong pertemuan dengan salah satu penulis favoritku. Salah satu penulis yang berhasil membuatku kembali bisa menyelesaikan (membaca) sebuah novel tebal. Dalam acara yang tanpa biaya, dengan pendaftaran yang lumayan mudah. Dan Allah juga melancarkanku untuk bisa mendapatkan 1 tiket, karena ada temanku yang bahkan tidak bisa mendapatkannya karena kuota penuh. Namun tak kusangka, mendadak hadir sedikit kekecewaan, karena temanku yang sebelumnya mengajakku tiba-tiba tak dapat ikut.

Sabtu, 01 Desember 2018

Adiksi yang mengganggu



Weekend yang mendung disertai rintik hujan kali ini. Diri yang penuh kenegatifan ini masih seperti ini. Belum berubah, walau banyak note-note penyemangat diri yang terpasang di dinding kamar, sampai yang membaca geli sendiri. tapi yes, saya belum bisa move on.

Okay blog berdebu yang si empunya selalu diterpa virus M kronis, nampaknya kali ini anda sedikit beruntung karena akhirnya ada sedikit pembaharuan di wajahmu.

Sabtu, 04 Agustus 2018

Renungan Hari Ini

Menanti Fatwa Hati
Oleh Ust. Felix Siauw

Aku tahu bahwa ilmu itu takkan pernah menyatu dengan maksiat, tapi tetap saja aku tak bosan-bosan melakukannya. Itulah mengapa kebodohan tetap membersamaiku

Aku tahu dosa itu candu, tapi aku masih meyakinkan diriku, bahwa ini dosa yang terakhir, tak ada lagi dosa setelahnya, aku sadar itu mantranya syaitan, tapi aku terus tertipu

Aku paham perkara melalaikan itu menjauhkanku dari hal yang harusnya aku capai. Tapi hal-hal yang remeh itu sangat-sangat menyenangkanku, sementara prestasi menjauhiku

Meski banyak dosaku, aku enggan beristighfar. Meski meluber kesalahanku, aku tak henti membuat yang baru. Terus-menerus tinggalkan tanggung jawab padahal akan dihisab

Entah bagaimana hidup ini bila Allah adil kepadaku. Bila satu kebaikan dibalas satu, satu dosa dibalas satu. Maka takkan punya kesempatan aku berdiri di hadapan Ar-Rahmaan

Tak ada yang membuatku berharap kecuali ampunan Tuhanku. Tapi aku malu meminta ampunan-Nya setelah apa yang aku lakukan pada-Nya, mengabaikan dan meremehkan-Nya

Bertambah-tambahlah rasa malu itu, tatkala aku menemukan Tuhanku menanti diriku senantiasa, kapanpun aku siap, kapanpun aku mau, sebetapapun aku jauh melangkah

Kalimat itu menghancurkanku. "Bila hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang aku". "Aku dekat". Sedekat itu hingga Tuhanku langsung berbicara padaku

Kini aku bertanya pada hatiku. Sampai kapan engkau ingin begini? Sampai kapan engkau terus mengabaikan Tuhan yang tak henti-hentinya mencintai dan menyayangimu?


-------------------------------
:'(