Selasa, 15 Mei 2018

Hidup yang Bagaimana?

Aku sadar hidup ini singkat.
Aku tahu bumi sudah semakin tua,
Waktu tak akan pernah bisa terulang.

Sering aku menangis karena sesuatu hal yang... mungkin hanya di pikiranku saja
Hidupku memang bukan hidup yang luar biasa.
Waktuku banyak kusia-siakan
Aku banyak tidur
Ibadah tak maksimal
Kenakalan selalu terjadi
Bekerja, banyak kesalahan juga

Aku tertawa pahit
Hidup yang bagaimana?

Hei, walau seperti ini aku punya lebih dari 50 impian
Walau impian terbesarku bukan tentang dunia
Tapi ada banyak hal sebenarnya yang ingin aku raih
Tapi, tak ada yang dapat kubagi
Sesuatu itu...
Keinginan itu...

Ketika air mataku jatuh
Pernah kulihat diri di cermin usang
Ya Allah..

Disana....
Aku melihat diriku
Sungguh tak berharga

Hijrah katamu?
kamu merasa sudah berhijrah?
Sama sekali belum

Aku tertawa sambil menangis
memperbaiki diri memang susah
apalagi jika kau tak pernah bisa istiqomah

Hidup yang bagaimana?
Cepat tentukan!
sebelum kau hilang dari peredaran
tak ada yang akan ingat engkau lagi
hanya akan jadi kenangan biasa
sekejap, lalu hilang

Lalu, apakah kau merasa dikenal penduduk langit?
Hahaha...
sungguh memalukan
Kau bahkan tak dikenal dimanapun

Hanya sebongkah hati busuk
Yang masih banyak sombong
yang selalu ternodai kemalasan, kemunafikan

Jadi, kau sebenarnya mau apa?

Hidup yang bagaimana?
Hanya kau yang tau wahai hati
Hanya kau yang harus berusaha

-----------------------------------------------------
Ya Allah...
Mohon bimbing hambaMu ini
Mohon beri waktu...

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ
“Ya muqollibal quluub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).”

Aamiin Allahumma Aamiin

Jumat, 13 April 2018

PENYAKIT KUCING : SELAPUT MATA PELINDUNG YANG NAIK

Asssalamualaikum...

Benar kata beberapa literatur yang pernah saya baca mengenai public speaking, bahwa salah satu kiat agar kita percaya diri saat berbicara di depan orang banyak yaitu kita harus paham luar dalam akan materinya. Semakin kita memahami apa yang akan kita sampaikan, maka kita akan bisa menguasai keadaan dan merasa enjoy dalam memaparkan materi. Sama halnya dengan menulis, kali ini saya ingin berbagi sedikit pengalaman, tentang penyakit yang dialami kucing saya, yang mana saya adalah termasuk perawat amatir baginya.

Mungkin jika teman-teman ada yang mengenal saya di dunia sesungguhnya, pasti tahu saya memiliki satu saudara hewan yaitu kucing saya 1 ekor (hanya boleh satu!) yang sudah menemani saya mulai blog ini dibuat. Yaps, kucing lokal tabby yang bernama Unyit itu pernah saya ulas di artikel tahun 2010 ini.

Rabu, 11 April 2018

CERITA SANG MANGGA TUA

Sebuah cerpen buatan saya beberapa tahun lalu, walau banyak kekurangan disana sini, belum baik (dan terlalu panjang!) namun semoga berkenan dibaca sebagai sedikit hiburan. Ambil sisi positifnya, buang yang negatif yes.. Oiya, walau saya sebenarnya malu memajang cerpen ini, setidaknya jika ada yang benar-benar peduli dengan kesalahan dan kekurangan cerpen ini, dapat memberikan komentar atau saran. Jazakumullah Khair..


CERITA SANG MANGGA TUA
oleh A. Dewi



Hari menjelang malam. Sayup-sayup terdengar adzan berkumandang. Menghiasi keremangan senja yang berwarna jingga. Burung-burung agaknya sudah kembali ke sarang. Hanya tinggal jangkrik dan sederet hewan malam yang bangun, tampak siaga, dan memulai perburuan. Aku tetap di sini, berdiri tegak, bagai mandor yang mengawasi. Diantara padi-padi merunduk yang mulai tak terlihat termakan gelap. Bersanding dengan gemericik air sungai kecil yang mulai terdengar syahdu melengkapi  nada-nada malam.
Sudah lama sekali aku disini. Puluhan tahun sepertinya. Takdir Tuhanlah yang membuatku bisa bertahan sampai saat ini. Semua saudaraku sudah tak tampak rupanya. Tapi aku yakin mereka disana bahagia, karena bisa terbebas dari kehidupan yang nampak mulai kejam.