Sabtu, 08 Desember 2018

Belajar Menulis Bersama Penulis


Part 1 (Sebuah Pengantar)

Suatu pagi di hari Ahad yang lumayan cerah.

Aku telah menghimpun semangatku dari beberapa hari kebelakang, menyongsong pertemuan dengan salah satu penulis favoritku. Salah satu penulis yang berhasil membuatku kembali bisa menyelesaikan (membaca) sebuah novel tebal. Dalam acara yang tanpa biaya, dengan pendaftaran yang lumayan mudah. Dan Allah juga melancarkanku untuk bisa mendapatkan 1 tiket, karena ada temanku yang bahkan tidak bisa mendapatkannya karena kuota penuh. Namun tak kusangka, mendadak hadir sedikit kekecewaan, karena temanku yang sebelumnya mengajakku tiba-tiba tak dapat ikut.


Yah, terbayang acara tersebut tidak akan menjadi seseru yang kubayangkan. Sebelum tiba-tiba ada whatsapp masuk ke hpku, pesan dari rekanku yang lain-yang aku ajak untuk juga ikut serta, memberikan suntikan energi semangat padaku. Masa aku yang mengajak namun aku tidak jadi semangat gara-gara sedikit hal yang tidak sesuai angan? Kubulatkan tekad. Bismillah. Kumasukkan dalam tas, sebuah Novel karya penulis tersebut, siapa tahu berguna. Bisakah tanda-tangannya terukir disana? Tak terlalu berharap namun dalam hati berkata ada kemungkinan.

Setelah kujemput rekanku, kami melaju dengan kecepatan rendah. Itu karena aku sangat lemah dalam penguasaan daerah dan nama jalan. Lagipula, saat itu kami rasa kami belum terlambat. Ada satu petunjuk penting mengenai lokasi acara tersebut yang sudah ada dalam otakku. Terpatri. Karena tempat itu terkenal. Sekaligus aku pernah beberapa kali melewatinya walau tak masuk. Mulus, perjalanan kami. Walau aku tidak percaya diri dengan jalur yang aku pilih (tidak ada kepercayaan diri jika aku yang menyetir) namun kami akhirnya sampai juga.

“Sebelah sana, Mbak.” kata seseorang mengarahkan kami yang memang bingung memarkirkan kendaraan kami.

Tak kusangka tempat itu sangat luas. Lebih luas dari perkiraanku. Mirip Rumah sakit. Namun sangat memadai sebagai sekolah dan bagian dari sebuah Universitas.

Kami disambut beberapa orang yang mendata kami dan meminta kami memperlihatkan bukti pendaftaran kami. Terlihat lebih banyak anak sekolah ketika kami memasukinya. Aku sudah menduga. Namun ada beberapa juga yang sebaya kami atau seperti bisa kutebak, beberapa penulis, guru, mahasiswa, dan tentu saja para pembaca setia novel-novel beliau.

Tarian Gandrung yang menawan membuka acara ini. Sudah lama aku tidak menikmati tarian seperti ini, karena memang jarang menghadiri acara-acara penting. Diiringi karawitan yang dimainkan oleh para pemuda-pemudi yang bikin aku tersenyum karena takjub. Aku jadi teringat ketika masa-masa sekolah dulu. Saat dulu diriku penuh keinginan untuk bisa mempelajari banyak hal, utamanya kesenian.

Jika sekarang, kuakui sangat susah sekali untuk menemukan motivasi untuk bisa jadi “sesuatu”. Apakah karena terlampau terlambat? Hmm. Pikiranku sudah sangat jauh. Kufokuskan lagi pandanganku. Dua orang pembawa acara menyapa kami. Satu berhijab, satu lagi berambut sebahu terurai. Mereka tersenyum, membacakan susunan acara selanjutnya. Sambutan-sambutan. Baiklah, mari kita nikmati dahulu.

Bersambung.

4 komentar:

Hai Sobat.. Jangan lupa memberi komentar ya...
terima kasih..